Announcement

Collapse
No announcement yet.

BAB VII. Dinamika Kebudayaan dan Peradaban Islam

Collapse
X
 
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • #16
    Originally posted by viraridho hidayati View Post
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 1 terlebih dahulu yaa..
    orang berilmu itu adalah orang yang berpengetahuan, artinya orang yang mempunyai ilmu pengetahuan lebih, sedangkan orang beradab adalah orang yang mempunyai adab atau sopan santun. Antara ilmu dan adab itu saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Adab lebih tinggi kedudukannya daripada ilmu. Seperti dalam kutipan Hadist "Al-Adabul Fauqol Ilmi, artinya: adab itu lebih tinggi derajatnys daripada ilmu. ", Untuk apa kita harus mempelajari adab terlebih dahulu? Karena menurut kelompok kami, jika orang mempunyai adab yang baik, maka orang tersebut mampu menempatkan posisinya dengan baik. Sekarang sudah banyak kita ketahui contohnya, misalkan jika ada seseorang yang berilmu akan tetapi tidak beradab, maka otomatis orang tersebut akan sombong bahkan bisa mengakibatkan kerusakan di bumi. Mereka akan semena-mena baik sesama manusia ataupun makhluk hidup lainnya termasuk merusak alam dan mengabaikan perintah dan larangan Allah SWT. sebagai penutup jawaban, saya mengutip kata-kata Syekh Abdul Qadir Al Jailani "Aku lebih menghargai oranv-orang yang beradab daripada orang yang berilmu. Kalau hanya berilmu, iblis pun lebih tinggi ilmunya daripada manusia. karena itulah iblis berilmu tanpa beradab. " untuk itu pelajari adab terlebih dahulu sebelum Ilmu.
    Kami rasa begitu, silahkan jika ada yang memberi masukan atau tanggapan lain 😀
    Kesombongan iblis mungkin juga karena ilmunya??

    Comment


    • #17
      Originally posted by Nur Kholifah View Post
      Mohon maaf untuk pertanyaanya di stop dulu ya 🙏
      kenapa?? kalau masih ada pertanyaan bolehkok djawab.. dengan quote biar nyambung

      Comment


      • Nur Kholifah
        Nur Kholifah commented
        Editing a comment
        Baik pak...
        Tadi masih kuwalahan

    • #18
      Originally posted by Feni Permata14 View Post
      Apa tanggapan kelompok kalian tentang orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya atau orang yang mengajak orang lain pada kebaikan tetapi dia sendiri berbuat yang sebaliknya?

      Dan apa yang harus kita lakukan agar tidak pelit membagi ilmu dengan orang lain?

      lalu apa batas kebebasan manusia untuk menggunakan ilmunya?

      Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari mbk feni, menurut kelompok kami, tanggapan dari klompok kami tentang orang yang tidak mengamalkan ilmunya adalah seseorang yang mempunyai ilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya itu bagaikan pohon yang tidak berbuah, mksudtnya adalah sama seperti orang yang mempunyai ilmu itu keilmuannya tidak bermanfaat, karena salah satu tanda manfaatnya ilmu seseorang itu adalah adanya pengamalan dari ilmunya itu dan yang kita lakukan agar tidak pelit ilmu dengan orang lain adalah kita harus mengetahui bahaya.nya orang pelit, apalagi pelit dalam ilmu. Bahaya dari orang yang pelit ilmu adalah kehilangan doa kebaikan dari penghuni langit dan bumi, orang yang menyembunyilan ilmunya akan terpasang kendali dari api neraka di mulut.nya, kehilangan aset berharga untuk kehidupan setelah kematian. Dan orang pelit ilmu justru membiarkan ilmunya tersebut mendekam dalam ruang sempti dan tidak mengharapkan ornag lain mengakses ilmu tersebut, sehingga ilmu yang semestinya bermanfaat untuk amal jariyah, justru akan berbalok menjadi bebannya kelak di akhirat

      Comment


      • Feni Permata14
        Feni Permata14 commented
        Editing a comment
        Terimakasih atas jawaban yang diberikan

        lalu apa batas kebebasan manusia untuk menggunakan ilmunya?

    • #19
      Mohon izin bertanya, menurut kelompok kalian bagaimana bentuk bertanggungjawab terhadap sebuah ilmu itu sendiri?
      terima kasih.

      Comment


      • #20
        izin bertanya, ada sifat ilmu yang saya pernah baca yaitu bebas nilai, yang dimana ketika kita menciptakan sesuatu dengan ilmu untuk menjaga kualitas ilmu itu sendiri tidak menghiraukan nilai nilai yang ada, nah menurut pandangan islam sendiri itu bagaimana? karena seperti ketika membunuh hewan hanya untuk penelitian. terimakasih🙏

        Comment


        • #21
          Assalamu'alaikum wr.wb.
          Saya Nabillah Nurul Fitria,izin bertanya kepada pemateri mengenai apakah yang harus didahulukan antara ilmu dengan ibadah.Dan apakah apa argumen saudara tentang hal tersebut. Terimaksih. Wssalamu'alaikum wr.wb

          Comment


          • Rohmania Agustin Pramana
            Rohmania Agustin Pramana commented
            Editing a comment
            Saya akan mencoba menjawab pertanyaannya. Dalam kitab minhajul abidin yang di karang oleh Iman Ghazali adalah hendaknya yang pertama harus kita miliki dalam perjalanan ini adalah ilmu, yang di lanjutkan dengan mengamalkannya melalui rangkaian ibadah. Sebab itu, merupakan pokok dan poros dari segala sesuatu. Ilmu dan ibadah sangat pokok, karena dengan sebab keduanya terjadilah apa yang kita baca dan kita dengar. Dan tentang ilmu sudah di jelaskan dalam al-qur'an, yaitu pada QS. Ath-thalaq ayat 12. Ayat tersebut cukup sebagai dalil atas kemuliaan ilmu, lebih lagi ilmu tauhid. Dan tentang ibadah juga sudah di jelaskan pada al-qur'an, yaitu QS. Adz-Dzaariyat ayat 56. Dan ada beberapa hadis yang menjelaskan tentang ibadah atau ilmu yang di dahulukan, inti dari hadis-hadis tersebut adalah ilmu itu pada intinya lebih mulia dari sekedar ibadah yang tanpa ilmu. Seorang hamba harus melakukan ibadah, bahkan ilmunya itu tidak akan ada artinya bila tidak di ikuti dengan pelaksanaan ibadah.

        • #22
          Originally posted by Rizky Wulandari View Post
          Assalamualaikum Wr.Wb. saya ingin bertanya.
          pada zaman dinasti abbasiyah (750m) iptek berkembang sangat pesat. banyak ilmuwan muslim yang sangat gemilang dan berkontribusi besar bagi perkembangan sains dan teknologi. kemudian pemerintah sangat mendukung perkembangan iptek pada masa tersebut. sedangkan yang kita ketahui, pada zaman sekarang iptek dalam islam mengalami kemunduran. mengapa bisa demikian?
          Saya mencoba membantu menjawab.

          Di zaman itu gencar-gencar nya usaha penerjemahan buku-buku Yunani maupun Romawi ke dalam Bahasa Arab, umat islam mulai mengenal berbagai ilmu selain ilmu-ilmu islam, baik itu filsafat, maupun siyasah (politik), itu lah yang menjadi stimulus muncul nya para ilmuwan islam (Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Ghozali, dsb) dan saat itu semua yang berkaitan dengan khazanah keilmuan didukung oleh khalifah.

          Kemunduran iptek islam diawali dengan adanya perang antara Dinasti Abbasiyah dengan Bangsa Tartar, di perang itulah perpustakaan Baghdad dihancurkan semua bukunya dibakar, padahal itu perpustakaan yang dibangun selama 600 tahun dan berfungsi sebagai jantungnya iptek Islam, memasuki era selanjutnya umat islam mulai mengalami kemunduran karena adanya tarekat tasawuf klasik yg digunakan di kerajaan padahal tarekat tassawuf klasik sendiri mengedepankan khanqah (dzikir) ketimbang memikirkan keilmuan, di samping itu gempar-gemparnya Barat melakukan invasi dengan 3G nya (gold, glory, gospel) yang turut menyerang umat Islam, menjajah umat islam, hingga hancurnya Turki Utsmani (akibat Mustofa Kemal dengan dogma sekulernya) maka menandai hancurnya Islam dari segi negara, politik, dan iptek sampai saat ini.

          Mungkin dari teman-teman ada pendapat lain. Silakan.

          Comment


          • #23
            Originally posted by novia ardhana View Post
            izin bertanya, ada sifat ilmu yang saya pernah baca yaitu bebas nilai, yang dimana ketika kita menciptakan sesuatu dengan ilmu untuk menjaga kualitas ilmu itu sendiri tidak menghiraukan nilai nilai yang ada, nah menurut pandangan islam sendiri itu bagaimana? karena seperti ketika membunuh hewan hanya untuk penelitian. terimakasih🙏
            Saya mencoba membantu menjawab.
            Dalam qowaid ushul fiqih (kaidah ushul fikih) bunyinya gini
            إِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَصَالِحُ قُدِّمَ اْلأَعْلَى مِنْهَا وَإِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَفَاسِدُ قُدِّمَ اْلأَخَفُّ
            Intinya kalau ada maslahat (kebaikan) ambil yang paling besar maslahatnya, kalau ada mafsadah (keburukan, rusak) maka ambil yang paling kecilnya.
            Menurut saya dalam masalah ini ilmu yang diperoleh dari membunuh hewan untuk penelitian mafsadahnya lebih kecil daripada mendapatkan ilmunya, biasanya setelah itu akan mendapat ilmu yang bermanfaat bagi manusia.
            Tetapi dalam membunuh pun jangan menyiksa, berilah bius atau apa, nilai kemanusiaannya harus tetap ada.
            Dalam ulama pun terjadi khilafiyah
            Imam Arromli, Imam Ghazali, Imam Syafii, Imam Maliki dan Hanafi menyatakan kebolehan tetapi Ibnu Hajar dan Imam Al Haramain tidak memperbolehkan dengan catatan apabila itu menyiksa si hewan. Berarti jumhur ulama memperbolehkan.

            Mungkin ada pendapat lain dari teman-teman. Silakan.

            Comment

            Working...
            X