Announcement

Collapse
No announcement yet.

BAB VII. Dinamika Kebudayaan dan Peradaban Islam

Collapse
X
 
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • Nafiatus Shofiana
    replied
    Originally posted by novia ardhana View Post
    izin bertanya, ada sifat ilmu yang saya pernah baca yaitu bebas nilai, yang dimana ketika kita menciptakan sesuatu dengan ilmu untuk menjaga kualitas ilmu itu sendiri tidak menghiraukan nilai nilai yang ada, nah menurut pandangan islam sendiri itu bagaimana? karena seperti ketika membunuh hewan hanya untuk penelitian. terimakasih🙏
    Saya mencoba membantu menjawab.
    Dalam qowaid ushul fiqih (kaidah ushul fikih) bunyinya gini
    إِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَصَالِحُ قُدِّمَ اْلأَعْلَى مِنْهَا وَإِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَفَاسِدُ قُدِّمَ اْلأَخَفُّ
    Intinya kalau ada maslahat (kebaikan) ambil yang paling besar maslahatnya, kalau ada mafsadah (keburukan, rusak) maka ambil yang paling kecilnya.
    Menurut saya dalam masalah ini ilmu yang diperoleh dari membunuh hewan untuk penelitian mafsadahnya lebih kecil daripada mendapatkan ilmunya, biasanya setelah itu akan mendapat ilmu yang bermanfaat bagi manusia.
    Tetapi dalam membunuh pun jangan menyiksa, berilah bius atau apa, nilai kemanusiaannya harus tetap ada.
    Dalam ulama pun terjadi khilafiyah
    Imam Arromli, Imam Ghazali, Imam Syafii, Imam Maliki dan Hanafi menyatakan kebolehan tetapi Ibnu Hajar dan Imam Al Haramain tidak memperbolehkan dengan catatan apabila itu menyiksa si hewan. Berarti jumhur ulama memperbolehkan.

    Mungkin ada pendapat lain dari teman-teman. Silakan.

    Leave a comment:


  • Nafiatus Shofiana
    replied
    Originally posted by Rizky Wulandari View Post
    Assalamualaikum Wr.Wb. saya ingin bertanya.
    pada zaman dinasti abbasiyah (750m) iptek berkembang sangat pesat. banyak ilmuwan muslim yang sangat gemilang dan berkontribusi besar bagi perkembangan sains dan teknologi. kemudian pemerintah sangat mendukung perkembangan iptek pada masa tersebut. sedangkan yang kita ketahui, pada zaman sekarang iptek dalam islam mengalami kemunduran. mengapa bisa demikian?
    Saya mencoba membantu menjawab.

    Di zaman itu gencar-gencar nya usaha penerjemahan buku-buku Yunani maupun Romawi ke dalam Bahasa Arab, umat islam mulai mengenal berbagai ilmu selain ilmu-ilmu islam, baik itu filsafat, maupun siyasah (politik), itu lah yang menjadi stimulus muncul nya para ilmuwan islam (Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Ghozali, dsb) dan saat itu semua yang berkaitan dengan khazanah keilmuan didukung oleh khalifah.

    Kemunduran iptek islam diawali dengan adanya perang antara Dinasti Abbasiyah dengan Bangsa Tartar, di perang itulah perpustakaan Baghdad dihancurkan semua bukunya dibakar, padahal itu perpustakaan yang dibangun selama 600 tahun dan berfungsi sebagai jantungnya iptek Islam, memasuki era selanjutnya umat islam mulai mengalami kemunduran karena adanya tarekat tasawuf klasik yg digunakan di kerajaan padahal tarekat tassawuf klasik sendiri mengedepankan khanqah (dzikir) ketimbang memikirkan keilmuan, di samping itu gempar-gemparnya Barat melakukan invasi dengan 3G nya (gold, glory, gospel) yang turut menyerang umat Islam, menjajah umat islam, hingga hancurnya Turki Utsmani (akibat Mustofa Kemal dengan dogma sekulernya) maka menandai hancurnya Islam dari segi negara, politik, dan iptek sampai saat ini.

    Mungkin dari teman-teman ada pendapat lain. Silakan.

    Leave a comment:


  • Rohmania Agustin Pramana
    commented on 's reply
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaannya. Dalam kitab minhajul abidin yang di karang oleh Iman Ghazali adalah hendaknya yang pertama harus kita miliki dalam perjalanan ini adalah ilmu, yang di lanjutkan dengan mengamalkannya melalui rangkaian ibadah. Sebab itu, merupakan pokok dan poros dari segala sesuatu. Ilmu dan ibadah sangat pokok, karena dengan sebab keduanya terjadilah apa yang kita baca dan kita dengar. Dan tentang ilmu sudah di jelaskan dalam al-qur'an, yaitu pada QS. Ath-thalaq ayat 12. Ayat tersebut cukup sebagai dalil atas kemuliaan ilmu, lebih lagi ilmu tauhid. Dan tentang ibadah juga sudah di jelaskan pada al-qur'an, yaitu QS. Adz-Dzaariyat ayat 56. Dan ada beberapa hadis yang menjelaskan tentang ibadah atau ilmu yang di dahulukan, inti dari hadis-hadis tersebut adalah ilmu itu pada intinya lebih mulia dari sekedar ibadah yang tanpa ilmu. Seorang hamba harus melakukan ibadah, bahkan ilmunya itu tidak akan ada artinya bila tidak di ikuti dengan pelaksanaan ibadah.

  • Nabillah nurul
    commented on 's reply
    Assalamu'alaikum.Izin menambahkan Izin menambahkan,Menurut pendapat saya seharusnya berilmu itu untuk menambah wawasan
    Tapi.. Dengan niat untuk diamalkan,biar tidak menjadi sia-sia. Dan ada 1 hadist yang menjelaskan Bawsannya Rasulullah menuntut ilmu itu untuk diamalkan,Beliau Rasulullah SAW bersabda "Al-Quran akan menjadi hujjah (yang akan membela) engkau atau akan menjadi bumerang yang akan menyerangmu maksud dari menjadi bumerang." Jadi kan percuma kalau berilmu bunyak,tapi tidak untuk diamalkan. Terimakasih
    (HR muslim)

  • Nabillah nurul
    commented on 's reply
    Sama-sama ,semoga bisa membantu

  • Nabillah nurul
    replied
    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Saya Nabillah Nurul Fitria,izin bertanya kepada pemateri mengenai apakah yang harus didahulukan antara ilmu dengan ibadah.Dan apakah apa argumen saudara tentang hal tersebut. Terimaksih. Wssalamu'alaikum wr.wb

    Leave a comment:


  • Nabillah nurul
    commented on 's reply
    Izin menanggapi pertanyaannya,menurut saya agama itu bukanlah suatu ilmu atau budaya.Kalau menurut saya agama adalah suatu kepercayaan atau keyakinan yang memiliki persyaratan adanya Tuhan,kitab suci,dan nabi. Kemudian untuk pertanyaan menurut pandangan islam lebih penting mana ilmu atau budaya. Menurut saya keduanya sangat penting,karena sangat berkaitan .Secara umum dapat dikatakan bahwa agama bersumber dari Allah, sedangkan budaya bersumber dari manusia. Agama adalah “karya” Allah, sedangkan budaya adalah karya manusia. Dengan demikian, agama bukan bagian dari budaya dan budaya pun bukan bagian dari agama. Ini tidak berarti bahwa keduannya terpisah sama sekali, melainkan saling berhubungan erat satu sama lain. Melalui agama, yang dibawa oleh para nabi dan rasul, Allah Sang Pencipta menyampaikan ajaran-ajaran-Nya mengenai hakekat Allah, manusia, alam semesta dan hakekat kehidupan yang harus dijalani oleh manusia. Ajaran-ajaran Allah, yang disebut agama itu, mewarnai corak budaya yang dihasilkan oleh manusia-manusia yang memeluknya.

  • Nur Kholifah
    commented on 's reply
    Baik pak...
    Tadi masih kuwalahan

  • Feni Permata14
    commented on 's reply
    Terimakasih atas jawaban yang diberikan

    lalu apa batas kebebasan manusia untuk menggunakan ilmunya?

  • Rohmania Agustin Pramana
    commented on 's reply
    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari mbk feni. menurut kelompok kami, tanggapan dari kelompok kami tentang orang yang tidak mengamalkan ilmunya adalah seseorang yang mempunyai ilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya itu bagaikan pohon yang tidak berbuah, mksudtnya adalah sama seperti orang ang mempunyai ilmu itu keilmuannya tidak bermanfaat, karena salah satu tanda manfaaynya ilmu seseorang itu adalah adanya pengamalan dari ilmunya itu. Dan yang kita lakukan agar tidak pelit ilmu dengan orang lain adalah kita harus mengetahui bahaya.nya orang pelit, apalagi pelit dalam ilmu. Bahaya dari orang yang pelit ilmu adalah kehilangan doa kebaikan dari penghuni langit dan bumi, orang yang menyembunyilan ilmunya akan terpasang kendali dari api neraka di mulut.nya, kehilangan aset berharga untuk kehidupan setelah kematian. Dan orang pelit ilmu justru membiarkan ilmunya tersebut mendekam dalam ruang sempti dan tidak mengharapkan ornag lain mengakses ilmu tersebut, sehingga ilmu yang semestinya bermanfaat untuk amal jariyah, justru akan berbalik menjadi bebannya kelak di akhirat

  • novia ardhana
    replied
    izin bertanya, ada sifat ilmu yang saya pernah baca yaitu bebas nilai, yang dimana ketika kita menciptakan sesuatu dengan ilmu untuk menjaga kualitas ilmu itu sendiri tidak menghiraukan nilai nilai yang ada, nah menurut pandangan islam sendiri itu bagaimana? karena seperti ketika membunuh hewan hanya untuk penelitian. terimakasih🙏

    Leave a comment:


  • Rahma Indarti
    replied
    Mohon izin bertanya, menurut kelompok kalian bagaimana bentuk bertanggungjawab terhadap sebuah ilmu itu sendiri?
    terima kasih.

    Leave a comment:


  • Nur Kholifah
    commented on 's reply
    mengapa saat ini marak sekali adanya hadist hadist broadcast tanpa sanad yang bertebaran di dunia maya? Padahal dengan hal tersebut, menurut saya tidak membangkitkan islam

    Dari pertanyaan diatas saya menarik kesimpulan bahwa banyak oknum oknum yang ingin mrnghancurkan islam, misalnya dengan hadist broadcast tanpa sanad, sebagai seorang muslim kita harus bisa mengklarifikasikan atau menyaring informasi tersebut apakah benar atau tidak, apakah sesuai atau tidak sehingga kita tidak menerima informasi langsung yang belum tentu benar.

  • Rohmania Agustin Pramana
    replied
    Originally posted by Feni Permata14 View Post
    Apa tanggapan kelompok kalian tentang orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkannya atau orang yang mengajak orang lain pada kebaikan tetapi dia sendiri berbuat yang sebaliknya?

    Dan apa yang harus kita lakukan agar tidak pelit membagi ilmu dengan orang lain?

    lalu apa batas kebebasan manusia untuk menggunakan ilmunya?

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari mbk feni, menurut kelompok kami, tanggapan dari klompok kami tentang orang yang tidak mengamalkan ilmunya adalah seseorang yang mempunyai ilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya itu bagaikan pohon yang tidak berbuah, mksudtnya adalah sama seperti orang yang mempunyai ilmu itu keilmuannya tidak bermanfaat, karena salah satu tanda manfaatnya ilmu seseorang itu adalah adanya pengamalan dari ilmunya itu dan yang kita lakukan agar tidak pelit ilmu dengan orang lain adalah kita harus mengetahui bahaya.nya orang pelit, apalagi pelit dalam ilmu. Bahaya dari orang yang pelit ilmu adalah kehilangan doa kebaikan dari penghuni langit dan bumi, orang yang menyembunyilan ilmunya akan terpasang kendali dari api neraka di mulut.nya, kehilangan aset berharga untuk kehidupan setelah kematian. Dan orang pelit ilmu justru membiarkan ilmunya tersebut mendekam dalam ruang sempti dan tidak mengharapkan ornag lain mengakses ilmu tersebut, sehingga ilmu yang semestinya bermanfaat untuk amal jariyah, justru akan berbalok menjadi bebannya kelak di akhirat

    Leave a comment:


  • viraridho hidayati
    commented on 's reply
    Trimakasih mbak Nabylla sudah menanggapi 😊
Working...
X